PANJANG(19/3) - Dalam rangka meningkatkan keselamatan, keamanan dan kenyamanan pelayaran khususnya menjelang penyelenggaraan Angkutan Laut Lebaran Tahun 2020 (1441 H) di wilayah Bandar Lampung dan sekitarnya, Kementerian Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Panjang mulai melakukan Setelahmengetahui keberadaan kapal-kapal induk Amerika Serikat, armada kapal induk Jepang memasuki Laut Koral (Laut Karang) dengan tujuan menemukan dan menghancurkan semua kekuatan laut Sekutu. Mulai 7 Juni, kapal induk dari kedua belah pihak saling melancarkan serangan udara selama dua hari berturut-turut. Badan SAR Nasional (Basarnas) mengungkapkan, banyak pemilik kapal enggan meregistrasi ulang Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB). Kondisi ini menyulitkan Basarnas menangani dan mencari korban saat terjadi kecelakaan kapal di laut. "Biasanya EPIRB yang di kapal-kapal itu masih registrasi luar negeri. Jadi ketika terjadi musibah alat ini akan memancar dan ditangkap EmpatTeknologi untuk Melacak Jejak di Dasar Laut. Operasi SAR jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 memasuki hari kesembilan, tetapi upaya evakuasi masih terkendala cuaca. Bukan hanya jalan menemukan keberadaan para penumpang yang sebagian besar belum ditemukan, menemukan potongan besar pesawat, termasuk kotak hitam, juga masih menjadi tantangan Antaralain RADAR, ECDIS, GPS, dan lainnya,Radar sendiri merupakan singkatan dari Radio Detection and Ranging yang fungsinya untuk mendeteksi keberadaan benda serta mengukur jarak kapal dengan suatu benda, dan ECDIS adalah "Electronic Chart Display and Information System" adalah suatu alat yang fungsi dan systemnya dapat memberikan informasi tentang navigasi dan yang kegunannya adalah untuk memback-up peralatan yang ada,sehingga dapat diterima dan dianggap memenuhi persyaratan yang Monitoringdata AIS bermanfaat untuk mengidentifikasi keberadaan kapal besar, termasuk jenis kapal niaga, pencari ikan bahkan dapat dimanfaatkan untuk melacak kapal pencuri ikan. Teknologi satelit ini dapat menerima 2,4 juta pesan posisi kapal dan di wilayah perairan Indonesia terpantau hingga puluhan ribu kapal. Rf5ef. Oleh — Menemukan lima situs kapal kuno yang karam di sekitar perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, bukanlah perkara mudah. Maklum, barang yang ditemukan relatif kecil jika dibandingkan luas dan dalamnya lautan. Selain itu, teknologi yang digunakan pun masih sangat ada ratusan kapal kuno lainnya yang diperkirakan karam di sekitar perairan Indonesia. Kapal-kapal kuno itu karam sejak zaman Kerajaan Sriwijaya abad VII hingga Dinasti Song abad X–XIII. Untuk melacak kapal-kapal karam itu, Indonesia hanya punya satu unit alat magnetometer AX2000. Itu pun hasil pemberian asing yang telah bekerja sama dengan Indonesia untuk melakukan survei sejak tahun 2009.”Walaupun bukan tipe yang terbaru, dengan bantuan magnetometer AX2000 itu kami sudah sangat terbantu,” kata Gunawan, Kepala Subdit Eksplorasi Direktorat Jenderal Arkeologi Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Senin 26/4 di Jakarta. ”Peralatan lain, seperti Global Positioning System GPS-Map juga punya satu,” peralatan sudah minim, jangan tanya soal kapal atau perahu yang khusus untuk survei. Jawabannya, tidak ada. Setiap kali kegiatan harus menyewa kapal atau perahu. Belum lagi bicara soal sumber daya manusia di bidang arkeologi bawah air yang terbatas, yang hanya memiliki dua penyelam andal untuk kedalaman sekitar 50 meter. Ditambah lagi, kerja penuh risiko itu juga tak ada menyedihkan dan betapa bangsa ini belum menunjukkan kepedulian dengan arkeologi bawah berbagai dokumen sejarah, di laut Indonesia yang luasnya sekitar 5,8 juta kilometer persegi terdapat sekitar 500 titik lokasi kapal kuno yang karam sekitar tahun dari informasi sejarawan China menyebutkan, dari abad X sampai XX, sekitar kapal China yang berlayar ke wilayah Indonesia tidak baru kapal China. Belum lagi kapal-kapal dagang Belanda VOC, Inggris, Portugis dan Spanyol, yang tentu tak terhitung jumlahnya, karam mulai dari perairan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga bagian timur Indonesia, yang sejak zaman dulu menjadi daerah lalu lintas kapal yang Direktur Peninggalan Arkeologi Bawah Air Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Surya Helmi, peninggalan arkeologi bawah air yang ditemukan di dasar laut merupakan sumber daya budaya maritim yang penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan sehingga keberadaannya dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar untuk surveiPotensi situs yang sangat banyak, sedangkan pengawasan lemah di lautan yang sangat luas, menyebabkan kasus-kasus pencurian benda cagar budaya BCB bawah air marak sejak tahun 1980-an. Yang paling menghebohkan adalah kasus di sekitar Karang Heliputan, Provinsi Riau. Tahun 1989, Michael Hatchar, arkeolog maritim asal Australia, melakukan pengangkatan BCB secara ilegal. Dari kapal Geldernmaisen yang digunakan untuk mengangkat BCB di bawah air tersebut, disita keramik dan 225 logam mulia peninggalan Dinasti Ching dari abad 18-19 Masehi. Meskipun demikian, Hatcher berhasil melelang BCB temuannya di balai lelang Belanda Christie senilai 15 juta dollar AS atau sekitar Rp 135 miliar setara uang rupiah saat itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan emas batangan dan porselen China dari Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Tidak diketahui kasus-kasus pencurian lainnya yang luput dari melacakUntuk melacak keberadaan kapal karam didahului dengan studi literatur, informasi dari nelayan atau penduduk setempat, dan orang yang Gunawan, sesudah itu ditentukan areal survei dalam peta kerja. Kapal dengan menggunakan magnetometer, side scan sonar, deteksi logam, dan GPS Pam Sounder, berkeliling membuat jalur magnetometer.”Magnetometer yang ditarik kapal berkecepatan 3,5 knot/jam melayang sekitar 7-8 meter dari dasar lautan. Magnetometer bisa mendeteksi keberadaan besi atau logam lain meskipun tertimbun lumpur atau ditutupi karang lebih dari satu meter,” menemukan timbunan logam, magnetometer memantulkan sinyal yang kemudian ditangkap pada layar komputer di atas kapal. Sinyal ini diubah dalam bentuk tiga dimensi, sehingga petugas di atas kapal bisa memastikan barang yang teridentifikasi di dalam laut tersebut kapal atau bukan. ”Jika diduga kapal, selanjutnya dilakukan penyelaman untuk memastikan muatannya,” kata sederhana. Namun, tidak gampang melakukannya karena luasnya wilayah lautan Indonesia. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. › Kantor SAR Pangkal Pinang masih melacak keberadaan KM Surya Hasil Laut yang diduga tenggelam di perairan Bangka. Tiga kru kapal juga hilang. Kapal ini hilang kontak sejak seminggu lalu. HUMAS KANTOR SAR PANGKAL PINANG Petugas Kantor SAR Pangkal Pinang disiagakan untuk mencari KM Surya Hasil Laut, Selasa 4/8/2020. Kapal tersebut hilang di perairan Bangka, Provinsi Bangka Belitung, saat bertolak dari Sambas, Kalimantan BALAM, KOMPAS — Tim dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Pangkal Pinang masih melacak keberadaan KM Surya Hasil Laut. Kapal yang diduga tenggelam di perairan Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, itu membawa tiga awak. Proses pencarian akan berlangsung hingga tujuh hari ke Syamsuddin dari Humas Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Pangkalpinang, Selasa 4/8/2020, mengatakan, proses pencarian sudah memasuki hari kedua. Petugas dibantu nelayan setempat terus menyusuri area yang diduga menjadi lokasi tenggelamnya kapal. Kapal KN SAR Karna 246 Bangka Belitung pun sudah dikerahkan ke area pencarian untuk mencari petunjuk baru. Ahmad menuturkan, KM Surya Hasil Laut berangkat dari Pelabuhan Tebas Kuala, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu 15/7. Kapal bermuatan jeruk itu bertujuan Pelabuhan Pangkal Balam, Kota Pangkal Pinang. Kapal berkapasitas 10 gros ton GT ini dioperasikan tiga awak, yakni Irwan nakhoda, Bayu, dan Boncong.”Kapal ini menurut rencana sandar di Pangkalan Balam pada Selasa 28/7, tetapi hingga saat ini kapal tersebut tidak kunjung sandar,” ucap terakhir antara pemilik kapal dan awak kapal terjadi pada Minggu 26/7. Dari kontak tersebut, diketahui posisi terakhir kapal berada sekitar 30 mil laut 55,6 kilometer di sebelah barat Pulau Pengiki. Hilangnya KM Surya Hasil Laut pun dilaporkan kepada Kantor SAR Pontianak pada 2 Agustus baru dilakukan setelah ada informasi dari kru Kapal Motor Bina Abadi yang telah sandar di Pontianak. Kru tersebut melihat adanya jeruk dan serpihan bagian kayu peti kemas penyimpanan jeruk, yang mengambang di lautan. ”Petunjuk itu diketahui pada Jumat 31/7, atau lima hari setelah KM Surya Hasil Laut hilang kontak,” ucap juga Kapal Pengangkut Bahan Bangunan Tenggelam di BelitungAhmad mengatakan, tim sudah memetakan sejumlah titik koordinat pencarian. ”Kami juga melibatkan para nelayan dan kapal yang beroperasi di area tersebut. Lokasi pencarian berada di jalur padat lalu lintas kapal,” belum mau menyimpulkan terkait penyebab tenggelamnya kapal. ”Saat ini, kami masih fokus pada upaya pencarian,” ucapnya. Namun, biasanya ada beberapa penyebab tenggelamnya kapal, seperti faktor cuaca buruk, kerusakan mesin, atau kesalahan manusia human error.KOMPAS/RHAMA PURNA JATI Sejumlah penumpang dari Pelabuhan Kalian, Muntok, Kepulauan Bangka Belitung, datang ke Pelabuhan Tanjung Api-api, Banyuasin, Sumsel, Sabtu 25/6/2016.Proses pencarian akan dilakukan hingga tujuh hari ke depan. Jika ditemukan ada petunjuk baru, waktu pencarian bisa saja ditambah. Namun, jika tidak ada, pencarian akan Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir Pangkal Pinang Kurniaji mengatakan, kondisi gelombang tinggi di Perairan Bangka memang sangat fluktuatif. Saat ini, ketinggian gelombang berkisar 1,75 meter-2 meter. Adapun kecepatan angin berkisar 7-38 kilometer per dia, karena jenis kapal nelayan ukurannya kecil, gelombang setinggi itu dapat membahayakan pelayaran. Untuk itu, dirinya berharap agar setiap nelayan, terutama yang menggunakan kapal kecil, juga Cuaca Buruk Pelayaran di Kolaka Ditutup EditorMohamad Final Daeng

melacak keberadaan kapal laut